Oleh S Saiful Rahim
DARI banyak buku tentang “how-how” rasanya belum ada yang berjudul “Bagaimana menjadi pemimpin?” atau sejenis itu. Padahal kalau ada, boleh jadi akan menjadi buku yang best seller. Karena banyak sekali orang yang ingin menjadi pemimpin.
Mulai dari pemimpin negara, pemimpin daerah, pemimpin parpol, pemimpin perusahaan, bahkan pemimpin rumah tangga. Untuk itu apa pun dilakukan orang. Yang punya media massa memajang seluruh kegiatannya di media massa miliknya.
Yang tidak punya media massa, memasang iklan di media massa yang selalu membuka pintu lebar-lebar. Atau memasang baliho di tiap sudut jalan sampai roboh atau dirobohkan Satpol PP.
Mereka yang tidak punya cukup uang untuk pasang iklan dan membuat baliho, cukup bikin selebaran untuk ditempel di tembok-tembok, pintu angkot, biskota, atau kalau terpaksa di pintu wc umum pun tak jadi soal.
Padahal sejak belasan abad yang lalu Rasulullah Saw sudah menyatakan bahwa setiap orang adalah pemimpin. Apalagi kalau beliau menyatakan setiap orang harus menjadi pemimpin, niscaya sebelum bangun tidur pun orang sudah berkelahi berebut jadi pemimpin. Nauzu billah min zalik.
Kalau belum ada buku “how-how” untuk menjadi pemimpin, apa dong pegangannya agar bisa menjadi pemimpin yang baik? Yang tidak dikait-kaitkan dengan korupsi atau gratifikasi proyek, dan tidak pula dituduh makar terhadap anak buah sendiri?
Ya tentu saja tiru Rasulullah Saw. Bukankah Tuhan pun menyebut beliau “uswatun hasanah” alias sebaik-baik contoh?
Bila mustahil mampu meniru Rasulullah Saw, peganglah pedoman yang diberikan Gajah Mada sebagaimana ditulis oleh Prapanca dalam buku “Nagara Kartagama.” Pertama “wijna” (bijak di saat kritis).
Kedua “mantriwira” (gagah berani dalam membela negara). Ketiga “wicakmengnaya” (tahu persis dalam memperhitungkan besar-kecilnya lawan dan kawan).
Keempat “matanggwan” (mampu menjaga kepercayaan yang diberikan orang). Kelima “Satyabhakti Aprabu” (setia dan taat kepada pemimpin dan negara). Keenam “Wagmiwak” ( pandai mengutarakan maksud dan tujuan dalam pidato
Ketujuh “Sarjawo-pasama” (sabar, manis, diplomatis). Kedelapan “dhirotsaha” ( bekerja keras, berhati baja ). Kesembilan “dwiyatcita” ( mau mendengar pendapat orang dan tidak mau orang mengikuti saja kemauannya).
Kesepuluh “sih samasta-bhuwana” (teguh berpegang pada sejarah lokal dan global). Kesebelas “tanlalana” (berpenampilan riang walau hati sedang gundah). Keduabelas “ginongpratidina” (selalu amar makruf nahi mungkar).
Ketigabelas “sumantri” (berlaku senonoh sebagai abdi negara). Keempatbelas “anayaken musuh” (siap menyikat habis musuh negara tanpa banyak bicara). Kelimabelas “dhirotsaka” (semuanya dilakukan dengan kerja keras dan hati teguh).
Berat? Makanya jangan main-main (ingin) jadi pemimpin. Sabda Nabi pun selain mengatakan “Setiap orang adalah pemimpin,” ditambah dengan “Tiap pemimpin akan diminta tanggungjawabnya.” Nah! (syahsr@gmail.com)