Harian Terbit

Tegas, Lugas, Cerdas
Kamis, 17 Januari 2013 20:11 WIB
Catatan Lepas Nur Aliem Halvaima

Nikmatnya Naik Commuterline Jabodetabek


KA

Oleh : Nur Aliem Halvaima
Admin Harian Terbit Online

DARI kemarin, Senin 14 Januari 2013, tulisan ini mau saya posting. Namun karena terkendala teknis, baru kali inilah kita bisa berbagi pengalaman. Yakni pengalaman naik sarana transportasi di Jakarta, terutama kereta api AC bertarif Rp8500 (setelah naik dari semula Rp6500) — namanya kerennya Commuterline — dari Stasiun Bulan-Bulan Kota Bekasi menuju Stasiun Beos, Kota, Jakarta.

Saya berharap, akan ada perubahan, paling tidak kenyamanan dalam menggunakan alat transportasi ini setelah terjadi penyesuaian tarif — kata halus dari kenaikan tarif –beberapa waktu lalu. Kenyataanya, tak jauh berbeda. Tetap saja penumpang berhimpitan, berdiri berdesak-desakan di setiap gerbong. Ini mengingatkan jika saya naik bus AC dari Terminal Kota Bekasi menuju Terminal Blok M, Jakarta Selatan. Bis AC koq berdiri? Katanya Patas, Cepat Terbatas.

Celakanya, penumpang wanita yang sudah disediakan gerbong khusus, terpaksa sebagian harus berbaur dengan penumpang lelaki akibat gerbong khusus mereka sudah penuh. Akibatnya, mereka harus rela ikut berhimpitan, berdiri dari stasiun ke stasiun. Bercucuran keringat, justeru di tengah hembusan angin dari penyejuk udara. Lebih tepat disebut “keringat dingin” hehe…

Saat naik kereta AC Commuterline dari Stasiun Bulan-Bulan, Kota Bekasi, saya sudah berdiri, berhimpitan dengan penumpang lain akibat tidak ada lagi ruang kosong di setiap gerbong. Saya sempat berebut dan berkejar-kejaran dengan penumpang kaum Adam. Itu karena gerbong khusus wanita, sudah penuh sehingga mereka sebagian terpaksa “luber” ke gerbong lelaki. Lagi-lagi saya teringat ketika naik busway Transjakarta. Kondisinya sama, ber-AC tapi berdiri berdesak-desakan. Koq begini amat ya alat transportasi kita? Kejadiannya di Jakarta lagi yang katanya kota Metropolitan?

Tak apalah yang penting sampai di tempat tujuan, itu kira-kira yang terbetik dari benak para penumpang. Menjelang Stasiun Jatinegara, saya berharap penumpang bakal berkurang. Eh, ini malah bertambah. Kereta seperti merayap dengan sempoyongan. Goyang kanan, goyang kiri. Berayun ke kanan, berayun ke kiri. Mengingatkan saya jika pulang kampung ke Makassar menggunakan kapal Pelni, begitu melintasi Pulau Massalembo tempat KM Tampomas II karam. Iihhh…….

Tiba di Stasiun Manggarai, suasana di dalam gerbong lebih kacau lagi. Penumpang kembali lebih banyak jumlahnya dari yang naik, dibanding penumpang yang turun. Peringatan berkali-kali disampaikan dari awak kereta, — “jangan memaksakan diri, di belakang masih ada kereta lagi” atau “Ingat, sayangi nyawa Anda” dan “Nyawa lebih penting”, “Keluarga menunggu di rumah” — agaknya tidak dihiraukan penumpang. Mereka nekad menerobos pintu kereta dan ikut berhimpitan. Payah….

Gerutu dan keluhan penumpang terdengar selintas. “Bapak baru naik, jangan ngoceh”. “Salah sendiri, mau turun koq lelet?,” kata wanita di Stasiun Manggarai. Rupanya, pemandangan ini sudah bukan rahasia lagi di pagi hari saat berburu kursi di kereta api. Buktinya, di pintu kereta terlihat pemandangan penumpang berdesakan. Antara yang mau turun dengan yg mau naik.

Tiba-tiba terdengar suara, braaakkkk…. Sebuah handphone terjatuh di depan pintu. Salah seoang penumpang memungutnya, dan terlihat tersenyum. Rupanya cuma tinggal sarung Hp-nya saja, isinya sudah kosong. “Sudah dicopet kali HP-nya,” bisik seorang penumpang di samping saya.
Sepanjang perjalanan, seperti yang saya ceritakan dari awal, ya … saya terhimpit di tengah penumpang. Kali ini, sudah lebih banyak penumpang wanita. Tak ada tempat berpegangan lagi yang bisa saya raih, apalagi karena posisi berdiri saya, berada persis di tengah-tengah penumpang. Saya akhirnya bertumpu saja, atau bersandar di balik punggung penumpang.

Itu saya lakukan, tentu saja, sambil membiarkan tubuh saya “digoyang” dan “diayun” oleh pergerakan kereta menyusuri kelok-kelok sepanjang rel menuju stasiun Gondandia. Jelang stasiun Gambir, kereta tiba-tiba berhenti. Saya berjinjit dan mencoba mengintip keluar jendela kereta, Comuterline ini rupanya memberi kesempatan kereta jurusan ke Pulau Jawa melintas dulu.

Nah, di tengah menikmati penderitaan ini, atau malah lebih tepat disebut sebagai “kenikmatan” terhimpit oleh tubuh penumpang wanita — saya mencoba membayangkan yang indah-indah untuk sekedar menghibur diri. Tapi tak lama, sebab akhirnya lamunan itu cepat-cepat saya buang jauh-jauh.

Masih teringat kejadian beberapa waktu lalu, dan sempat ramai diberitakan media cetak, adanya kasus pelecehan yang dilakukan penumpang pria terhadap penumpang wanita di atas kereta. Mungkin saja situasi seperti ini sebagai salah satu pemicu terjadinya tindakan amoral, seperti kejadian pelecehan di atas kereta api tersebut. Ini mungkin perlu menjadi perhatian khusus dari petinggi PT Kereta Api Indonesia (KAI). Jika dibiarkan kondisi seperti ini di dalam gerbong, bisa mengundang kerawanan bagi penumpang, terutama kaum wanita.

Hingga kereta tiba di Stasiun Beos, Kota Jakarta, saya hanya bisa menarik napas. Begitu menderitanyakah penumpang, terutama pengguna kereta api di setiap pagi? Sesuatu terasa hilang sepanjang perjalanan dari Bekasi, yaitu kenyamanan menikmati kereta AC. Kenaikan tarif dan penghapusan kereta ekonomi, ternyata tidak ada pengaruhnya. Sampai kapan kondisinya seperti ini? Akh tak tahulah awak dah …. (Nur Aliem Halvaima, www.aliemhalvaima.blogspot.com)


Baca Juga

Copyright © 2012 • HARIAN TERBIT